Dari Imogiri Hingga San Diego Hill

Posted on June 26, 2012

0


Rupanya, entah sadar atau tidak, terdapat kebiasaan menamai tempat-tempat suci —makam— dengan ‘gunung’. Kebiasaan ini terlihat setidaknya sejak zaman para wali dahulu. Beberapa makam, seperti Makam Sunan Bayat yang terletak di “Gunung” Jabalkat, Klaten. Jabal sendiri berarti ‘gunung’ dalam bahasa Arab. Ada juga Makam Sunan Giri (=gunung) yang terletak di bukit kecil, tidak jauh dari kota Gresik.

Di Yogyakarta, Makam Raja-Raja Mataram hingga Surakarta dan Yogyakarta dikenal dengan nama Imogiri, berasal dari kata imo yang berarti ‘kabut’, dan giri yang berarti gunung. Makam ini memang terletak di Pebukitan Imogiri, tepatnya di Bukit Merak, Bantul. Tidak jauh dari kompleks makam tersebut terdapat makam lain, Giriloyo, ‘Gunung Tempat Orang Meninggal(?)’ yang juga terletak di atas bukit. Lalu ada Giri Sapto, makam seniman yang didirikan oleh seniman Sapto Hudoyo, juga tidak jauh dari makam raja-raja yang disebut Pajimatan ini. Makam keluarga Puro Pakualaman juga terletak di atas bukit. Makam yang berada di wilayah Kulonprogo ini bernama Girigondo, ‘Gunung yang Berbau Harum’.

Sampai pada masa belum lama ini, kompleks makam keluarga mantan Presiden Suharto juga terletak di bukit, dengan nama Astana Giribangun, ‘Gunung yang dibangun’, di Mangadeg, Karanganyar. Makam ini tepat berada di bawah kompleks makam keluarga Puro Mangkunegaran, Astana Mangadeg. Cukup menarik melihat bahwa ketiga bangunan utama di kompleks makam Giribangun diberi nama dengan argo, yang juga berarti ‘gunung’: Argo Sari, Argo Kembang, Argo Tuwuh.

Tidak hanya pada kebudayaan (tradisi) Jawa, makam modern yang diklaim sebagai pertama di Indonesia, yang terletak di Cikarang, Jawa Barat, juga dinamai dengan menyertakan gunung atau bukit, hill, yaitu: San Diego Hill Memorial Park. Makam ini juga terletak di lahan sedikit berbukit.

* Bukit, gunung, tempat tinggi, telah dianggap suci sejak zaman Prasejarah. Berbagai bangunan suci diibangun di tempat tersebut, seperti punden berundak dan juga candi di masa Klasik Indonesia. Kita kenal punden berundak Gunung Padang yang tiba-tiba sering diberitakan, candi-candi di Pegunungan Dieng, kompleks Gedong Songo di lereng Gunung Ungaran. Kawasan Sleman, yang merupakan kaki Gunung Merapi juga padat dengan temun dari Masa Klasik. Di Gunung Arjuno dan Argopuro, Jawa Timur, juga mengandung banyak temuan arkeologi berupa bangunan candi. Kita juga mengenal candi Sukuh dan Cetho di lereng Gunung Lawu.

* Di Singapura, barangkali budaya semacam ini juga berkembang. Jenazah taipan terkenal, Liem Sioe Liong, konon disemayamkan di Mount Vernon Funeral Parlor. Tempat tersebut menggunakan nama mount atau gunung. Menurut thefreedictionary, mount berarti: ‘a land mass that projects well above its surroundings; higher than a hill’. Sementara itu, tanah tertinggi di Singapura sendiri hanya diberi nama bukit, Bukit Timah, setinggi 164 meter dpl. Kata mount pada Mount Vernon Funeral Parlor tersebut rasanya lebih bersifat simbolik ketimbang menggambarkan adanya bukit di tempat tersebut.

 

Sumber: Catatan (daripada) Sekti / Foto: Panduan Wisata

About these ads
Posted in: Budaya, Sejarah