5 Desa Wisata di Jogja yang Wajib Anda Kunjungi

Posted on July 2, 2012

0


Jogjakarta selalu menarik untuk dikunjungi. Selain Candi Prambanan dan Malioboro, Jogjakarta juga memiliki desa wisata yang menarik dan seru. Tiap desanya memiliki keunikan tersendiri. Ayo berkunjung ke 5 desa ini!

1. Desa Wisata Krebet

Ingin merasakan sensasi membatik di kayu? Datang saja ke Desa Wisata Krebet di Kabupaten Bantul, 12 km barat daya Kota Jogjakarta. Ini adalah desa wisata yang memiliki kerajinan membatik dengan menggunakan media kayu.

Beberapa ukiran dari kayu seperti topeng, sendal, hiasan dinding, aksesoris rumah tangga, gelang dan berbagai macam kerajinan dari kayu yang dibalut dengan motif batik. Bentuknya pun cantik dan sungguh unik!

Tidak hanya belanja untuk suvenir saja, Anda pun bisa mencoba langsung membuat ukiran kayu dari batik. tentu, dibutuhkan ketelitian dan kesabaran yang tinggi untuk menghiasi ukiran-ukiran kayu dengan motif batik yang beragam. Jika ingin lebih lama menetap, Anda bisa bermalam di homestay yang disediakan dengan tarif Rp 40.000- 100.000.

2. Desa Wisata Kasongan

Masih di Kabupaten Bantul, ada Desa Wisata Kasongan yang juga menarik untuk dikunjungi. Di sana terdapat pengrajin gerabah yang membuat alat kebutuhan sehari-hari, hiasan dan cinderamata dari tanah liat.

Hasil kerajinan di desa wisata ini tidak kalah menarik. Aneka jenis kerajinan dari tanah liat dapat Anda temukan di sini. Hasil kerajinan tersebut berupa alat kebutuhan rumah tangga, seperti guci, pot bunga, kendi dan masih banyak lagi. Bentuk-bentuknya pun unik dan dapat menjadi oleh-oleh cantik!

Ada juga hiasan dan miniatur berupa hiasan dinding, miniatur becak atau candi, asbak, vas bunga, dan lain-lain. Harganya pun berkisar mulai dari puluhan hingga ratusan ribu. jangan lupa berbelanja untuk oleh-oleh keluarga di rumah.

3. Desa Wisata Banyusumurup

Siapa yang tidak kenal keris? Senjata khas dari Jawa ini sungguh populer dan menjadi bagian dari upacara adat atau acara-acara besar di Pulau Jawa. Anda bisa mengenal keris dan melihat pembuatannya dari dekat di Desa Banyusumurup yang terletak di Kabupaten Bantul.

Ternyata, pembuatan keris tidak semudah yang dikira. Anda bisa melihat proses awal hingga akhir pembuatan keris di desa ini. Keris dibuat dengan alat-alat yang sederhana, seperti paku tatah, palu, alat pelebur, dan alas. Pembuatan keris dilakukan dengan teknik tempa yang rumit. Kerumitan pembuatan keris terletak pada seni tempa pamor atau motif ukir logamnya.

Proses penyelesaian pembuatan keris memang bisa dilakukan oleh para pengrajin keris. Tetapi, proses awal pembuatan keris pada tahap tempa tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang di Desa Banyusumurup, hanya bisa dilakukan oleh Mbah Jiwo. Dia adalah generasi ke-20 dari Kerajaan Majapahit dan mempunyai sosok yang karismatik. Puas melihat prosesnya, Anda juga bisa membeli keris di tempat ini sebagai oleh-oleh. Harganya pun beragam, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah!

4. Desa Wisata Kebon Agung

Ingin kembali ke sawah dan melupakan hiruk pikuk kota? Anda bisa berkunjung Desa Wisata Kebon Agung di Kabupaten Bantul. Di sini ada persawahan yang luas dan Anda bisa mengenal kehidupan para petani dari dekat.

Para wisatawan akan dikenalkan lebih dekat tentang pertanian di desa ini. Anda akan diajak untuk memilih bibit, menanam padi, mempelajari sistem irigasi, hingga membajak sawah dengan kerbau. Ada juga upacara-upacara yang dikenalkan di tempat ini, salah satunya adalah upacara Wiwit yang berisi kegiatan memberikan sesajen atau sesembahan berupa hasil pertanian.

Udara khas pegunungan dan pemandangan serba hijau dapat Anda temukan di desa ini. Desa Wisata Kebon Agung juga terletak tidak jauh dari Makam Imogiri, makamnya raja-raja Jawa.

5. Desa Wisata Ledok Sambi

Terletak di Jalan Kaliurang, Kecamatan Pakembinangun, Desa Ledok Sambi akan menawarkan beragam macam kegiatan outbound yang menyenangkan. Di sini pun udaranya sangat sejuk dan serba hijau.

Ada beragam kegiatan outbound dan kegiatan yang menyenangkan di desa ini. Anda dapat menyusuri hutan, mengenal masyarakat desa yang hidup secara tradisional, berkemah, hingga mencoba flying fox yang melintasi jalur aliran lahar dingin Merapi sepanjang 200 meter. Seru!

Tidak hanya keluarga, desa ini juga ramai dikunjungi oleh anak-anak kuliah dan karyawan-karyawan perusahaan. Terang saja, aneka macam kegiatan outbound akan membentuk kerjasama tim yang lebih tangguh di desa ini.

 

Sumber tulisan dan foto: detikTravel

Posted in: Wisata