Lestari Budhaya, Kesenian Kethoprak Dari Selopamioro

Posted on July 5, 2012

0


Mungkin tidak banyak yang pernah mendengar tentang Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Padahal, desa ini memiliki segudang kesenian dan seniman dengan berbagai keahlian.

Selain bertani dan berdagang yang menjadi pekerjaan resmi, sebagian warga berprofesi sebagai pemain ketoprak, dalang, artis campursari, jatilan, dan banyak lagi.

Ngatiman adalah salah satunya. Lelaki berumur 45 tahun ini merupakan pemimpin kelompok ketoprak Lestari Budhaya, satu dari beberapa kelompok ketoprak yang ada di Selopamioro.

“Dulu kelompok ketoprak di sini banyak sekali, tapi sekarang yang masih aktif tinggal beberapa. Dulu di hampir semua dusun ada,” ungkapnya. Desa Selopamioro sendiri memiliki 18 dusun.

Ditemui di rumahnya di Dusun Kajor Kulon, Ngatiman, menuturkan kesenian ketoprak masih mendapatkan tempat di hati masyarakat. Hanya saja, mereka lebih senang menonton dibanding bergabung dengan kelompok ketoprak dan ikut melestarikannya.

Lestari Budhaya, yang sudah berdiri sejak awal 1970-an, sekarang anggotanya sekitar 20 orang. Sebagian besar anggota sudah berumur di atas 45 tahun. Hanya beberapa orang yang usianya sekitar 35 tahun. Dari total jumlah pemain, empat orang berasal dari luar Desa Selopamioro. Mereka berasal dari Imogiri, Sanden, Seloharjo, dan Wonosari.

Ngatiman, yang sudah bermain ketoprak sejak 1992, mengaku sulit sekali mengajak anak-anak muda untuk bergabung dengan kelompok ketoprak.

“Mungkin karena bermain ketoprak itu sulit. Pemain harus tahu gendingnya, bisa gamelan, bisa nembang, dan harus tahu karakter tiap wayang,” sebut bapak dua anak ini.

Apalagi, tiap pemain tidak dibekali naskah. Mereka bermain di panggung dengan improvisasi sendiri, saling membantu mengembangkan cerita. Undangan untuk manggung pun tidak seramai dulu. Jika pada pertengahan 1990-an permintaan untuk pentas bisa datang tiap bulan, maka sekarang sangat sepi. Dulu, Lestari Budhaya bisa bermain di seluruh wilayah DIY. Sekarang, kelompok itu biasanya hanya bermain tiga bulan sekali. Bahkan, terkadang lebih lama.

Kemunculan organ tunggal membuat kelompok ketoprak agak tersisih. Karena, dengan dana Rp1,5 juta seseorang sudah bisa memesan organ tunggal. Sedangkan, kelompok ketoprak setidaknya membutuhkan Rp4-5 juta untuk sekali pentas semalam suntuk.

Namun, Ngatiman menuturkan, kelompoknya tertolong dengan adanya agenda rutin dari pemerintah desa sejak setahun lalu. Agenda tersebut menjadwalkan kelompok ketoprak yang ada di desa untuk bermain pada peringatan 17 Agustus.

Mereka diharuskan bermain di dusun masing-masing, dan tiap tahun lokasi pentasnya di RT yang berbeda. Selain ketoprak, kesenian lain yang ditampilkan adalah wayang.

Demi mempertahankan eksistensi ketoprak, kelompok Lestari Budhaya rela tidak dibayar. Uang yang mereka terima habis untuk menyewa pakaian dan jasa rias, membayar pemain yang berasal dari daerah lain, serta membayar pemain gamelan.

Dua pemain perempuan dari Imogiri dan Sanden dibayar Rp600.000 sekali tampil. Dua pemain laki-laki dari Seloharjo dan Wonosari mendapat bayaran Rp300.000 sekali main. Sedangkan, biaya untuk gamelan dan pemainnya berkisar Rp350.000 hingga Rp500.000 sekali pentas.

“Pemain lainnya hanya mendapat rokok dan makan. Kalau nombok malah sering,” ungkap Ngatiman sambil tertawa. Dia bercerita dalam pentas terakhir tiga bulan lalu, kelompoknya iuran Rp50.000 per anggota untuk membantu membayar jasa video shooting yang merekam penampilan mereka.

Latihan kelompok ketoprak ini pun tidak tentu. Mereka baru berlatih ketika undangan pentas datang. Biasanya, mereka berlatih 3-4 kali menjelang manggung. Agenda terdekat mereka adalah bermain pada 10 September nanti, dalam peringatan 17 Agustus.

Ketika ditanya sampai kapan Lestari Budhaya akan bermain, Ngatiman menjawab tegas, “Selama mungkin. Selama masih ada panggilan, kami akan terus main. Tujuan kami bukan uang atau bayaran, yang penting kesenian ini terus hidup.”

 

Sumber: Harian Jogja / Foto: ygadishakti

Posted in: Budaya, Kesenian