Sadranan Sebagai Kritik Sosial

Posted on July 9, 2012

0


Setiap menjelang Ramadan, masyarakat Jawa memiliki tradisi unik, yakni sadranan. Sadranan adalah sebuah seremoni sebelum memasuki bulan Ramadhan, yakni pergi ke makam leluhur (orangtua), silaturrahim kepada yang masih hidup (biasanya berkumpul di rumah peninggalan orangtua). Acara sadranan, setidaknya memberi pesan sebelum memasuki Ramadan sesama saudara sekandung atau relasi sosial mengucapkan saling memohon maaf, me-refresh hubungan silaturrahim dan memperbaharui komitmen.

Dulu Sunan Kalijaga mendesain sadranan bertujuan agar sebelum memasuki bulan Ramadan hati manusia mukmin bersih dari penyakit hati, seperti iri, dengki, hasut, takabur, riya’, dan ujub. Penyakit hati ini berdiam di hati manusia dan harus dibersihkan. Tujuannya, agar saat memasuki bulan Ramadan kondisi batin siap menerima pelajaran ruhani dari Allah.

Jalaluddin Rakhmat (2005) menyebut Ramadan sebagai madrasah ruhani (sekolah spiritual). Mukmin yang telah menyelesaikan ibadah diharapkan Ramadan diharapkan peka dengan kondisi lingkungan sekitarnya, seperti bagaimana merasakan lapar dan dahaga di siang hari. Bagaimana seseorang merelakan dirinya tidak makan dan minum meskipun makanan dan minuman itu halal. Ia hanya mau makan bila sudah ada tanda maghrib. Setiap malam bermunajad menggapai ridho Illahi. Alqur’an sebagai kitab pedoman dibaca, dikaji, dan diaplikasikan dalam kehidupan. Bersedekah yang semula berat, ketika bulan Ramadan rasanya ringan.

Seseorang yang mau memasuki bulan Ramadan perlu mengkondisikan spiritualitasnya. Mentalnya perlu diedukasi agar siap menerima pelajaran dari Allah langsung sebagaimana firmannya dalam hadis qudsi; Puasa Ramadhan adalah milik Ku dan Aku yang akan langsung mengganjarnya.

Adakah sadranan di Arab Saudi, tempat Nabi Muhammad SAW dilahirkan dan Alqur’an diturunkan? Jawabnya pasti tidak. Hal ini karena dipengaruhi perbedaan budaya. Masyarakat Jawa senang dengan kumpul-kumpul sampai ada peribahasa Jawa, mangan ora mangan sing penting kumpul. Maka tidak heran bila dalam kondisi apapun, seperti mudik yang menelan harta dan bahkan nyawa, tetap saja sebagai sesuatu yang unik dan menarik. Bahkan, setiap ritual mudik, ada perputaran uang yang sangat signifikan di daerah.

Para Wali Songo sebagai peletak dasar tradisi Islam Jawa berusaha mendesain acara-acara yang memiliki muatan keislaman tanpa merusak tradisi yang berkembang di masyarakat lokal. Seperti ide sadranan, di Jawa sebenarnya sudah ada tradisi besik. Besik adalah tradisi membersihkan makan menjelang Ramadan, acara ini kemudian diolah oleh para Wali Songo sehingga mengkomunikasikan hadis Nabi yang maknanya, di dalam diri jasad manusia ada segumpal darah. Bila segumpal darah itu bagus, maka bagus pula seluruh diri jasad manusia. Sebaliknya, bila segumpal darah itu jelek (kotor), maka jelek pula seluruh diri jasad. Segumpal darah itu adalah hati. Hati dalam perspektif Sunan Kali Jaga berada di dada, maka acara pembersihan hati diberi nama (simbol) sadr (dada) dan berubah menjadi sadranan.

Komunikasi-komunikasi ini terus dilakukan dan masyarakat Jawa yang pada waktu itu belum memiliki hiburan seperti jaman sekarang sadranan merupakan momen bertemunya balung apisah (tulang/keturunan yang telah pisah bercerai berai). Maka untuk zaman teknologi seperti sekarang ketika silaturrahim telah tereduksi adanya handphone, perlu para penerus generasi Wali Songo mendesain acara sadranan lebih bermakna sebagai pembelaan atas komunitasnya.

Sadranan sebenarnya bisa menjadi kritik sosial ketika pada acara itu bertemu antara pemimpin, ulama (cendekiawan), dermawan, dan fakir miskin. Mereka berkumpul bersama untuk mendoakan arwah leluhur. Andaikan pertemuan itu didesain sebagai upacara untuk mengkonsolidasikan kekuatan lokal yang tertindas secara ekonomi, pendidikan, budaya, politik, dll. maka sadaran akan memiliki kekuatan lebih.

Lihat saja, makanan yang disajikan dalam acara sadranan terdiri dari makanan olahan lokal. Jauh dari modernitas. Ini merupakan kritik atas ekonomi bangsa Indonesia yang telah dibanjiri produk luar negeri. Dalam prosesi penyelenggaraan, masyarakat secara mandiri membiayai acaranya dengan cara iuran tanpa harus mengemis kepada pemerintah. Mereka pun membelanjakan uangnya kepada pedagang sekitar. Sehingga dengan berkumpulnya iuran itu, ekonomi pun berjalan.

Mereka bangga dengan kesederhanaan, tidak neka-neka, tidak perlu mendesain gemerlapnya lampu seperti panggung konser musik. Mereka khusyu mendoakan yang telah mati dan yang masih hidup. Mereka melestarikan syair karya Sunan Kali Jaga yang berjudul sluku-sluku batok, yang dalam syair itu ada ungkapan wong mati ora obah yen obah medeni bocah, yen urip golek ooo duwet.

Pesan Sunan Kalijaga, kewajiban manusia yang masih hidup adalah bekerja bukan menumpuk kekayaan. Maka ungkapan khas Jawa, sugih tanpa bondho. Sayangnya, keluhuran prinsip hidup orang Jawa harus diuji oleh gerusan budaya luar yang menjanjikan kenikmatan dunia dengan budaya hedonisme dan konsumerismenya.

Akhirnya, apakah sadranan akan mampu menjadi media kritik sosial atau tidak, itu merupakan tanggung jawab para pelestari budaya adi luhung ini. Bila para penerus generasi wali songo gagal memaknai perubahan zaman, suatu saat sadranan pun akan bergeser makna hanya sebagai tradisi klasik yang akan menjadi tontotan. Bukan tuntunan. Wallahu a’lam bis showaab.

 

Sumber: Kholilurrohman, Dosen IAIN Surakarta / Harian Jogja & Image: langsungenak

Posted in: Budaya