Pengaruh Belanda pada Batik di Imogiri

Posted on July 16, 2012

0


Belanda banyak meninggalkan jejak di Indonesia, terutama di wilayah Yogyakarta. Misalnya benteng Vredeburg ataupun saluran irigasi Van der Wijk. Tapi bukan itu saja.

Bukan hanya bangunan peninggalan Belanda yang masih dapat difungsikan hingga saat ini, dalam motif batik pun jejak ingatan akan Belanda dapat dilihat secara kasat mata Contohnya batik baito geni atau kapal api yang dapat dijumpai di wilayah Imogiri, Yogyakarta yang terkenal sebagai tempat makam raja-raja Mataram. Motif ini terasa unik karena wilayah Imogiri merupakan daerah perbukitan yang otomatis bukanlah tempat untuk kapal bersandar. Selain itu dijumpai pula dan motif serdadu Belanda.

Ini cukup mengejutkan Larasati Suliantoro, pendiri dan kurator museum lingkungan batik Cipto Wening Imogiri, Yogyakarta. Tapi dia tahu, di wilayah itu dulu banyak tawanan Belanda. “Saya terkaget-kaget. Ini orang Imogiri kan gak pernah lihat kapal, tapi saya belajar dari tesis De Graaff. Zaman Sultan Agung itu banyak Belanda. Ada orang Belanda di Imogiri, mereka tawanan. Mungkin  tawanan itu yang mendesain, (kapal api). Bisa toh? Atau mungkin  orang Imogiri yang pergi ke Tuban, ke Rembang atau ke Pekalongan, dengan laskar Sultan Agung, saat perang menyerbu Batavia, itu kan dua kali.” Demikian Larasati yang menambahkan bahwa pada saat berada di Batavia itu mereka menggambarnya.

Kondisi ini dikuatkan dengan catatan sejarah yang menyebutkan bahwa Sultan Agung yang pernah menyerbu Batavia itu meninggal di wilayah Pleret, Bantul pada tahun 1645. Wilayah Pleret hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari Imogiri. Diduga banyak prajurit Sultan Agung berasal dari Imogiri. Mereka adalah bagian dari 14.000 prajurit Sultan Agung yang menyerang Batavia pada tahun 1629.

Motif batik kapal api berupa kapal laut lengkap dengan tiang-tiang berbendera Indonesia. Bendera merah putih  diduga sebagai perlawanan simbolik terhadap penjajahan Belanda. Seharusnya bendera yang dikibarkan pada tiang kapal adalah bendera Belanda. Bendera merupakan kode simbolik kekuasaan yang dominan. Dalam batik itu juga digambarkan kapal yang mengeluarkan asap pada cerobongnya. Kapal tampak seperti berlayar di lautan dilengkapi ornamen binatang air, misalnya ikan.

Batik motif kapal api ini dibuat oleh masyarakat Imogiri. Sebagai contoh, karya pengrajin batik Giriloyo, Wukir Sari, ini menggunakan kain katun primisima dengan pewarna natural yang berasal dari mahoni. Warna batik yang dihasilkan seperti coklat susu. Harga  batik mencapai 150 ribu hingga 400 ribu rupiah. Sedangkan batik yang menggunakan warna sintetis cukup dihargai 50 ribu rupiah hingga 200 ribu rupiah. Kelompok batik tulis Lestari, memiliki motif batik kapal api yang berwarna biru, di tempat lain yaitu di museum batik Mustoko Weni, Imogiri dapat dijumpai batik motif kapal api dengan perpaduan warna galaran putih dan gambar kapal berwarna coklat.

Motif  kapal api berbeda dengan motif batik Belanda yang banyak dijumpai di Pekalongan. Menurut Larasati Suliantoro Sulaiman yang juga merupakan ketua panitia pendirian Museum Batik Kraton Yogyakarta, batik Belanda sebagian dibuat oleh nyonya-nyonya Belanda yang ingin mencari uang di Indonesia. Mereka suka batik, tetapi batik mereka disesuaikan dengan cita rasa mereka. Misalnya mereka memakai motif bunga tulip, krisan atau bentuk buket bunga.

“Enggak cuma bunga-bunga yang alam ya,” demikian Larasati Suliantoro, pendiri dan kurator museum lingkungan batik Cipto Wening Imogiri, Yogyakarta. “Tapi serdadu Londo, yo ono, kapalé Londo yo ono, gendero Londoné yo ono.” Maksudnya serdadu Belanda, kapal dan bendera Belanda juga. “Termasuk juga misalnya cerita-cerita legenda di Negeri Belanda. Itu kan satu karya bebas. Kalau legenda itu seperti cerita anak-anak yang ada di Negeri Belanda, seperti Rood Kapje. Memang kebudayaan Belanda yang masuk ke situ. Seri rupanya orang-orang Belanda.” Demikian Larasati.

Kembali pada motif kapal api, ketika dikonfirmasi soal motif kapal pada batik di wilayah Imogiri ini, produsen batik Giriloyo, Giyarti, tidak memahami sejarah motif itu. Hal yang sama juga diungkapkan oleh produsen Mukhoyaroh yang juga merupakan Ketua Kelompok Pengrajin Batik Tulis Berkah Lestari di desa Giriloyo, Wukirsari, Imogiri Yogyakarta. “Masalah motif seperti ini, karena ada ceritanya yang begini-begitu, saya juga kurang tahu. Setahu saya cuma, saya ada kelompok, terus kemudian salah satu anggotanya ada yang bisa bikin batik batik seperti ini. Perkapalan misalnya, dia cuma membatik saja.” Demikian Mukhoyaroh.

Memang disayangkan, para pengrajin batik Imogiri tidak tahu persis sejarah motif kapal itu. Walau demikian tradisi meneruskan motif batik kapalan tetap mereka praktekkan hingga saat ini.

 

Sumber: Radio Nederland Wereldomroep

Tagged:
Posted in: Budaya, Sejarah