Sendang Sari Mulyo

Posted on July 27, 2012

0


Sendang Sari Mulyo secara administratif terletak di Dusun Nogosari, Selopamioro, Imogiri, Bantul, Propinsi DIY. Untuk menuju lokasi ini dapat ditempuh melalui Jalan Imogiri Timur ke selatan. Sampai di Jembatan Karangsemut menyeberang arah ke timur-ke arah perbukitan Selopamioro dan terus ikuti jalan menuju Gua Lawa atau arah ke SPN (Sekolah Polisi Negara) Selopamioro. Sampai di pertigaan jalan Dusun Nogosari-ambil arah ke kanan/timur (jalan aspal)-pertigaan kecil pertama (TK-Masjid Nogosari)-ambil arah ke kiri. Jarak Sendang Sari Mulyo dengan pertigaan kecil ini kurang lebih hanya 300 meter.

Kompleks Sendang Sari Mulyo berada dalam sebuah daerah cekungan yang keletakannya tidak jauh dari perbukitan atau Gunung Nawungan. Kompleks sendang juga berada di tepian jalan aspal yang menjadi penghubung antardusun di wilayah itu.

Kompleks Sendang Sari Mulyo memiliki keluasan sekitar 25 m x 25 m. Sumber utama dari mata air Sendang Sari Mulyo ini telah diberi pengaman berupa tembok yang dibangun mengelilingi sumber tersebut. Kedalaman sumber mata air utama dari Sendang Sari Mulyo ini sekitar 1,5 m. Dari mata air utama itulah aliran air disalurkan ke beberapa bak penampungan. Setidaknya ada 3 bak penampungan di kompleks sendang ini. Dua bak atau kolam sampai saat ini masih berfungsi dengan baik. Sementara bak yang satunya lagi relatif kurang berfungsi. Dua bak pertama digunakan untuk mandi, cuci, dan pengambilan air untuk keperluan umum.

Dua bak pertama ini disekat dengan dinding tembok. Masing-masingnya digunakan untuk kaum pria dan perempuan. Sementara limpahan air dari sendang ini ditampung dalam kolam yang berukuran relatif lebih luas yang awalnya digunakan untuk kolam ikan. Limpahan air dari kolam ikan ini kemudian disalurkan ke saluran irigasi dan dimanfaatkan untuk pertanian padi di wilayah Nogosari dan sekitarnya. Selain itu ada pula tempat lain yang dibuat khusus untuk memandikan hewan ternak.

Seperti umumnya berbagai sendang, Sendang Sari Mulyo juga dikelilingi oleh tanaman-tanaman besar yang cukup tua usianya. Tanaman-tanaman tersebut di antaranya adalah tanaman jenis soka, jambu air hutan, gayam, dan mangga. Tanaman-tanaman besar ini menjadi semacam penangkap dan penyimpan air di wilayah ini selain tentu saja tanaman-tanaman besar yang bertumbuhan di sekitar Gunung Nawungan.

Menurut sumber setempat Sendang Sari Mulyo ditunggui oleh penunggu gaib yang dikenal bernama Kyai dan Nyai Sariwijoyo. Sendang Sari Mulyo juga dipercayai sebagai petilasan Bambang Sumantri.

Seperti diketahui, Bambang Sumantri adalah nama salah satu tokoh dalam cerita pewayangan seri Ramayana. Bambang Sumantri adalah putra seorang pendeta yang bernama Resi Suwandagni atau Suwandageni. Bambang Sumantri ini digambarkan sebagai pria muda yang tampan dan sakti namun memiliki sikap cukup ambisius dan sombong. Sifat semacam ini berkebalikan dengan sifat yang dimiliki oleh adiknya yang santun serta rendah hati.

Akan tetapi adik Bambang Sumantri yang bernama Bambang Sukasrana atau Sukasarana ini berwajah buruk. Dalam pewayangan ia digambarkan sebagai raksasa kerdil. Dahinya sangat nonong, hidung pesek melesak, bertaring, tangan cekot, kakinya gejig (pincang), perutnya buncit, kulitnya hitam dan kasar. Jika kesaktian Bambang Sumantri lebih ditekankan pada kesaktian fisik, maka kesaktian atau kelebihan Bambang Sukasrana justru terletak pada sisi kebatinan atau kerohaniannya.

Tokoh Bambang Sumantri di dalam dunia pewayangan ini sering dikaitkan dengan keberadaan Sendang Sari Mulyo. Demikianlah mitos yang berkembang di Sendang Sari Mulyo ini. Dalam mitos ini ada dugaan bahwa dulu Bambang Sumantri diduga pernah singgah di sendang ini untuk melepaskan lelah dan rasa hausnya ketika dirinya mengembara menuju Negeri Mahespati. Kehausan dan kelelahan itu tersembuhkan setelah ia meminum air Sendang Sari Mulyo dan juga beristirahat di tempat ini.

Oleh karena itu pula kemudian muncul kepercayaan bahwa air dari sendang ini memiliki beberapa tuah yang bermanfaat selain untuk MCK dan irigasi. Akibat dari itu air dari sendang ini kemudian dipercaya sebagai memiliki tuah. Adanya tuah itu juga dipercaya karena sendang ini ditunggui penunggu gaib yang dinamakan Kyai dan Nyai Sariwijoyo. Untuk itu pula maka di lokasi sendang ini sampai sekarang masih sering diberi sesaji, khususnya sesaji buangan.

 

Sumber: Tembi

Posted in: Legenda, Wisata