Masjid Pajimatan Imogiri

Posted on August 1, 2012

0


Masjid Pajimatan merupakan salah satu masjid tertua di Yogyakarta. Masjid peninggalan zaman raja Mataram Islam, Sultan Agung, ini berada satu kompleks dengan makam raja-raja Mataram di Dusun Pajimatan, Kecamatan Imogiri, Bantul.

Masjid Pajimatan Imogiri

Masjid tersebut diperkirakan dibangun pada tahun 1632 oleh Tumenggung Citrokusumo atas perintah Sultan Agung Hanyakrakusumo. Usia masjid tersebut hampir sama dengan Masjid Kotagede dan Masjid Giriloyo, yaitu lebih dari 300 tahun.

Tidak ada yang tahu mengapa masjid itu dinamakan Masjid Pajimatan. Hanya diketahui nama dusun di kawasan itu bernama Dusun Pajimatan. Namun nama Pajimatan mengingatkan kita akan nama jimat yang berarti sesuatu yang dianggap keramat, sakral atau mistik.

Letak masjid berada di kawasan perbukitan Pajimatan yang menjadi satu kompleks atau satu kesatuan dengan makam Sultan Agung, makam trah Kasunanan Solo dan trah Kasultanan Ngayogyakarto. Hanya saja letaknya masih di bawah bukit. Untuk sampai di pintu gerbang, Anda akan menemui bangunan anak tangga sebanyak 32 buah. Sedang untuk menuju masjid juga akan melewati tangga pula, namun jumlahnya hanya 13 tangga. Sedang untuk mencapai kompleks makam, dari masjid harus menaiki sekitar 415 anak tangga.

Dari sisi arsitektur bangunan masjid juga sama dengan bangunan masjid tua lainnya dengan model limasan dengan atap tumpang satu (tajug). Model ini juga merupakan ciri khas proses akulturasi budaya Islam masa itu dengan budaya yang ada sebelumnya yakni Hindu dan Budha. Masjid ini juga tanpa mustaka tapi dengan mustaka menyerupai mahkota berbentuk bunga kenangan dari tembaga.

Tembok bangunan menggunakan batu bata merah namun bila dibandingkan dengan batu bata sekarang ini, ukurannya lebih besar dan tebal dengan model lepa menggunakan batu kapur. Sedangkan konstruksi atas dan saka menggunakan bahan kayu jati.

Bangunan atau ruang utama mempunyai luas sekitar 89 meter persegi yang dilengkapi dengan mimbar dan bedug masjid. Bedug masjid yang ukuran tingginya sekitar 1.5 meter telah mengalamai dua kali pergantian kulit.

Abdi Dalem R. Mangun Pamujo Menunjukan Bedug Masjid Pajimatan

Tempat salat juga terbagi dua yang terpisah untuk jamaah laki-laki dan perempuan serta kolam tempat wudu dan serambi masjid. Sekarang ini, kolam yang ada di depan pintu masuk masjid untuk membasuh kaki sebelum masjid sudah dijadikan kolam ikan. Para jamaah cukup mengambil air wudhu dari air kran air.

Mimbar Khotib Masjid Pajimatan Imogiri

“Masjid ini mengalami beberapa kali pembangunan. Awalnya pada zaman Sultan Agung kemudian dilanjutkan raja-raja yang lain. Bangunan ini masih asli meski ada beberapa tempat yang direstorasi agar tidak rusak,” ungkap salah satu pengurus Masjid Pajimatan, R. Mangun Pamujo.

Oleh karena masjid ini merupakan satu kesatuan dengan kompleks makam, lanjut Mangun, masjid ini juga diurus dan dijaga oleh 12 orang abdi dalem keraton. Mereka semua adalah warga dusun sekitar yang diberi tugas merawat sekitar lingkungan masjid secara bergiliran.

“Selain berziarah ke makam, orang yang datang ke masjid juga banyak. Pada bulan puasa paling banyak yang datang saat salat Jumat. Orang yang mengaji atau tadarus sehabis tarawih juga banyak. Malam selikuran atau malam lailatul qodar akan lebih banyak lagi yang datang,” ujar Mangun.

 

Sumber: detikRamadan & Majalah Burung Pas

Posted in: Sejarah, Wisata