Masjid dan Makam Giriloyo

Posted on August 4, 2012

0


Kisah berdirinya kompleks Masjid dan Makam Giriloyo di Dusun Giriloyo/Cengkehan Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta erat kaitannya dengan kompleks Masjid Pajimatan dan Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri. Masjid dan Makam Giriloyo dan Imogiri usianya tidak jauh berbeda, sekitar abad 16 M.

Kedua tempat tersebut diperkirakan dibangun saat zaman pemerintahan Sultan Agung. Kedua tempat itu terletak di perbukitan di kawasan Imogiri. Bentuk bangunan masjid kedua tempat tersebut juga hampir sama dengan model atap tumpang dan limasan dengan bahan utama kayu jati.

Di Giriloyo dimakamkan Pangeran Juminah, paman Sultan Agung beserta keluarganya serta ibunda Sultan Agung. Letak makam berada di perbukitan yang ada di atas masjid. Untuk sampai ke makam harus menaiki tangga batu dan semua orang harus melewati Masjid Giriloyo yang berada di bawahnya.

Konon seusai Salat Jumat di Makkah, Sultan Agung mengambil beberapa batu kecil dan tanah. Tanah dan batu itu kemudian dilemparkan ke arah selatan di perbukitan Imogiri.

Ternyata tanah dan batu itu jatuh di Giriloyo. Karena di tempat itu sudah ada makam pamannya, Pangeran Juminah dan ibundanya, Sultan Agung kemudian memindahkannya ke sebelah selatan di Pajimatan Imogiri dan jadilah makam seperti yang sekarang ini.

“Itu cerita rakyat yang berkembang di masyarakat sekitar Imogiri maupun di Yogyakarta. Mau percaya silakan, tidak juga tidak apa-apa,” kata H Ahmad, salah satu takmir Masjid Giriloyo.

Menurut dia, kompleks makam Pangeran Juminah juga ada yang mengurusi dan menjaga yakni beberapa abdi dalem keraton yang ditunjuk untuk bertugas. Sebagian besar adalah warga sekitar Dusun Cengkehan Giriloyo. Sedangkan pembangunan masjid kemudian di lanjutkan oleh Kiai Marzuki dan keluarganya.

“Untuk makam di sekeliling masjid atau yang ada di bawah adalah diperuntukkan warga dusun setempat saja,” sambung Ahmad.

Untuk Masjid Giriloyo sendiri bagian ruang utama masih utuh seperti semula dengan atap model tumpang atau tajug dengan tiang/saka sebanyak 4 buah terbuat dari kayu jati. Atap tumpang model tajug ini merupakan ciri khas masjid-masjid kuno di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta yang merupakan perpaduan antara arsitektur Islam dan Hindu pada masa itu.

Bangunan tembok masjid berbentuk bujur sangkar dengan luas sekitar 80 meter persegi. Di dalam ruangan tersebut juga terdapat mimbar tempat khatib menyampaikan khotbah. Dinding bangunan terbuat dari batu bata yang diplester. Sedangkan lantai masjid terbuat dari tegel warna hijau tua. Selain itu terdapat bedug, kentongan dan beberapa keranda yang disimpan di samping masjid.

Di sebelah selatan ruang utama terdapat ruang pawestren yang dulu biasa digunakan untuk jamaah perempuan. Serambi masjid juga masih ada dan berbentuk seperti aslinya. Sedangkan di depan serambi masjid terdapat kolam dengan ukuran 10 x 1,5 meter yang digunakan para jamaah membersihkan kaki sebelum masuk masjid agar bersih dari segala kotoran.

“Semua masih asli dan utuh. Alhamdulillah saat gempa 27 Mei 2006 bangunan tidak rusak tapi hanya retak-retak pada tembok sisi selatan saja,” lanjut Ahmad.

Menurut dia, meski sudah ada tiga buah pintu dan empat jendela, ruang utama masjid masih tampak gelap dan temaram. Udara di dalam masjid juga sangat sejuk karena banyak pepohonan rindang yang tumbuh di sekeliling masjid.

Dia mengatakan, masjid dan makam, terutama pada malam hari ramai dikunjungi para peziarah. Biasanya mereka datang pada malam hari, berada di sana semalaman, kemudian menggelar salat subuh di masjid. Saat bulan puasa, paling ramai pada 10 hari terakhir atau malam ke-21 dan seterusnya.

“Tiap malam banyak yang mengaji di sini. Kalau sudah malam selikuran, orang-orang akan melaksanakan itikaf atau berdiam diri di dalam masjid pada malam hari. Mereka senang ke sini karena tempatnya tenang dan gelap tapi sejuk. Tidak hanya masyarakat sekitar tapi juga orang dari luar,” tutup Ahmad.

 

Sumber: detikNews

Posted in: Legenda, Wisata